Inspirasinews – Medan, Wakil Ketua Fraksi Partai Demokrat DPRD Kota Medan, Dodi Robert Simangunsong, ajak warga Garu VI Medan Amplas rawat gotong royong. Hal itu sebagai bentuk implementasi nilai-nilai Pancasila di tengah-tengah masyarakat.
Dodi Robert Simangunsong ajak warga Garu VI Medan Amplas rawat gotong royong pada Sosialisasi Penyelenggaraan Pembinaan Ideologi Pancasila dan Wawasan Kebangsaan di Jalan Garu VI, Kelurahan Harjosari I, Kecamatan Medan Amplas, Sabtu (24/10/2026).
“Perlu bagi pemerintah setempat atau Kepala Lingkungan (Kepling) untuk menggelar gotong royong membersihkan lingkungan setidaknya dua minggu sekali. Saya pernah turun ke satu lingkungan dan menemukan sampah bertumpuk. Hal seperti ini harus diatasi bersama,” ujar Dodi.

Sebagai bentuk konkret dari komitmen tolong-menolong, secara spontan Dodi melakukan aksi nyata dengan memborong seluruh dagangan pelaku Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM) milik warga yang hadir dalam sosialisasi tersebut. “Saya punya prinsip hidup bahwa kita harus saling tolong-menolong dan bergotong royong dalam kebaikan,” tegasnya.
Sementara narasumber kegiatan, Rijen Sihombing, S.Th., memaparkan esensi gotong royong telah bergeser dan meluas di era modern. Menurutnya, gotong royong tidak lagi sebatas kerja bakti fisik, melainkan fondasi utama berjalannya seluruh sila Pancasila.
Rijen menguraikan tiga pilar kekuatan gotong royong yang harus diperkuat oleh warga di era digital saat ini. Pertama, Ekonomi Kerakyatan. Menghidupkan dapur tetangga dengan memprioritaskan belanja di warung atau UMKM terdekat, meskipun terdapat selisih harga sedikit lebih mahal.

Kedua, Sosial dan Lingkungan. Menghilangkan budaya tidak peduli (bodo amat). Warga diajak aktif saling mengingatkan terkait pengelolaan sampah dan optimalisasi pelayanan kesehatan. Dan ketiga, Literasi Digital: Menggunakan teknologi secara bijak. Di era digital, gotong royong kini bisa dilakukan “lewat jempol” dengan menyebarkan informasi yang sudah terverifikasi dan aktif membentengi keluarga dari berita bohong (hoax) serta penipuan digital.
“Tidak ada gunanya kita bertuhan dan mengaku berkemanusiaan jika tidak ada aksi saling mengasihi dan menopang. Kemampuan saling menopang inilah modal terbesar bangsa kita yang tidak bisa dibeli dengan teknologi atau kekayaan tambang sekalipun,” kata Rijen.
Ia juga mengingatkan bahwa gotong royong hanya dapat tumbuh jika masyarakat mampu merawat toleransi dan mengikis rasa saling curiga antar-suku, agama, dan ras. Hubungan sinergis antara program kebijakan pemerintah dan kepedulian swadaya warga diharapkan dapat mewujudkan lingkungan yang aman, damai, tanpa adanya polarisasi sosial. (sat)

