Sumut Umum

Bobby Usulkan 4 Skema Satukan Potensi Ekonomi Pulau Sumatera

Spread the love

Inspirasinews – Medan, Gubernur Sumatera Utara (Sumut), Muhammad Bobby Afif Nasution, usulkan empat (4) skema satukan potensi ekonomi Pulau Sumatera. Sebab, 10 Provinsi di Pulau Sumatera memiliki skala ekonomi, pasar dan produksi besar.

Bobby Nasution usulkan 4 skema satukan potensi ekonomi Pulau Sumatera pada Rapat Koordinasi Gubernur se-Sumatera sebagai rangkaian forum Indonesia-Malaysia-Thailand Growth Triangle (IMT-GT) di Hotel JW Marriott Medan, Rabu (9/9/2026).

Hadir saat itu Menteri Dalam Negeri Tito Karnavian, Gubernur Sumatera Barat Mahyeldi Ansharullah, Gubernur Jambi Al Haris, Wakil Gubernur Aceh Fadhlullah, Wakil Gubernur Bengkulu Mian dan Pj Sekdaprov Sumut Timur Tumanggor.

Skema pertama, kata Bobby, adalah integrasi rantai nilai komoditas unggulan, dari basis produksi menjadi basis industri. “Contohnya, saat ini kelapa sawit di Sumut baru menghasilkan sekitar 120 produk turunan. Hal ini masih terbuka ruang untuk memperkuat hilirisasi di seluruh wilayah Sumatera,” katanya.

Skema kedua, sebut Bobby, adalah pengembangan kawasan terintegrasi antarprovinsi, khususnya pada sektor logistik. Jalur logistik menyumbang sekitar 30 persen terhadap penentuan harga komoditas di Sumatera.

Karena itu, Bobby, mengusulkan pembangunan jalur kereta menghubungkan sentra produksi dengan komoditas yang memiliki kemiripan, seperti Aceh, Sumatera Utara dan Sumatera Barat.

“Dengan konektivitas tersebut, hasil bumi dari wilayah-wilayah tersebut dapat di pusatkan dan diekspor melalui jalur logistik internasional lebih efisien, termasuk memanfaatkan jalur Selat Malaka dan Samudra Hindia untuk membidik pasar Tiongkok dan India,” sebutnya.

Skema ketiga, sambung Bobby, adalah kerja sama berbasis proyek dan tepat waktu (on-time). Selama ini masih banyak berhenti pada tahap wacana. “Perlu kiranya dibentuk Badan Usaha Milik Daerah (BUMD) gabungan lintas provinsi se-Sumatera sebagai alternatif pembiayaan proyek Kawasan. Kira-kira mirip dengan konsep Danantara di tingkat nasional. Selain itu, perlu juga sindikasi perbankan pembangunan daerah (BPD) melibatkan delapan BPD milik 10 provinsi di Sumatera,” ujarnya.

Skema keempat, tambah Bobby, adalah menjaga stabilitas harga pangan dan penguatan agribisnis melalui dukungan terhadap program swasembada pangan nasional.

Terkait hal ini, Bobby, menyampaikan Pemprov Sumut telah membangun gudang penyangga (buffer stock) pangan di Pulau Nias yang terintegrasi dengan akses pelabuhan untuk membantu menstabilkan harga kebutuhan pokok di wilayah kepulauan tersebut. “Harusnya di beberapa daerah terluar yang ada di daerah memiliki stok pangan, buffer stok minimal untuk 3 bulan pencadangan pangan suatu daerah,” kata Bobby.

Pulau Sumatera, lanjut Bobby, telah memiliki skala ekonomi, pasar dan produksi besar. “Tantangannya bukan lagi ada atau tidak adanya potensi yang ada di Pulau Sumatra. Tapi tantangannya adalah bagaimana menghubungkan dan menyatukan potensi ini untuk menjadi kekuatan besar bagi kawasan dan juga bagi Indonesia,” kata Bobby.

Sejumlah data menjadi dasar usulan tersebut, papar Bobby, pada triwulan I 2026, Pulau Sumatera berkontribusi sebesar 22,08 persen terhadap Produk Domestik Bruto (PDB) nasional atau setara lebih dari Rp1.361 triliun. Pada semester I 2026, kontribusi tersebut meningkat menjadi lebih dari Rp2.812 triliun.

Dari sisi kependudukan, Sumatera menyumbang 21,9 persen dari total penduduk Indonesia. Sementara dari sisi komoditas, sejumlah produk unggulan Sumatera memiliki kontribusi terhadap produksi nasional di atas 40 persen, antara lain karet sebesar 75 persen, kopi 74 persen, dan kelapa sawit lebih dari 55 persen.

Selain itu, komoditas kelapa dan tebu berkontribusi di atas 30 persen terhadap produksi nasional. Sementara kakao serta hasil laut dan perikanan masing-masing berkontribusi di atas 20 persen.

Meski memiliki skala produksi yang besar, Bobby menilai kontribusi PDRB Sumatera sebesar 22,08 persen terhadap perekonomian nasional masih dapat ditingkatkan. Perekonomian Sumatera saat ini masih banyak berbasis produksi, sementara pergeseran menuju basis industri dan pengolahan dinilai masih memiliki ruang yang besar untuk dikembangkan.

Gubernur Jambi, Al Haris, berharap kerja sama antardaerah tersebut dapat terus berlanjut. “Dengan demikian, Sumatera diharapkan menjadi satu kawasan dengan pemerataan pembangunan semakin baik” katanya.

Haris menyatakan, sepakat dengan usulan yang disampaikan Gubernur Bobby Nasution. “Yang penting adalah komitmen kita dalam rangka rakor ini bagaimana menguatkan peran penting provinsi di Pulau Sumatera sehingga tidak hanya berdampak terhadap pertumbuhan ekonomi nasional, tetapi juga menguatkan ekonomi daerah di Pulau Sumatera ini,” kata Haris. (sat)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *