Sumut

Stok Surplus, Harga Pangan di Sumut Dipastikan Stabil

Spread the love

Inspirasinews – Medan, Harga pangan di Sumatera Utara (Sumut) dipastikan stabil menjelang Ramadhan dan Idul Fitri 147 H, sebab stok pangan surplus. Pemprov Sumut melakukan berbagai intervensi melalui Program Jaminan Kestabilan Harga Komoditas Pangan (Jaskop).

Harga pangan di Sumut dipastikan stabil disampaikan Plt Kadis Ketahanan Pangan, Tanaman Pangan dan Hortikultura Sumut, Timur Tumanggor, kepada wartawan di Kantor Gubernur Sumut, Jalan Diponegoro Nomor 30 Medan, Rabu (21/1/2026).

Sepanjang tahun 2025, jelas Timur, Sumut mengalami surplus beras sekitar 501 ribu ton. Produksi beras mencapai lebih dari 2.222.000 ton, sementara kebutuhan masyarakat Sumut sekitar 1,7 juta ton per tahun. “Kondisi ini juga menjadikan Sumut sebagai salah satu daerah penyuplai beras bagi provinsi lain,” katanya.

Selain beras, sebut Timur, sejumlah komoditas pangan lainnya juga mengalami surplus, di antaranya cabai merah sebesar 134 ribu ton, jagung 135 ribu ton serta cabai rawit 65 ribu ton. “Harga cabai merah masih berpotensi berfluktuasi, karena sebagian produksi dijual ke provinsi lain dengan harga lebih tinggi. Makanya, kita lakukan intervensi saat panen untuk menjaga stok dan harga bisa terkendali,” kata Timur.

Pemprov Sumut, sambung Timur, juga melakukan intervensi melalui pengembangan kawasan unggulan padi di lima kabupaten/kota, antara lain Deliserdang, Serdangbedagai dan Asahan. Sementara kawasan unggulan cabai merah dikembangkan di Kabupaten Karo dan Batubara. “Untuk kawasan ini kita intervensi mulai dari alsintannya, pupuk juga bibitnya, supaya produksi kita tetap bisa surplus,” ujar Timur.

Selain menjaga produksi, tambah Timur, Pemprov Sumut juga sigap melakukan pemulihan lahan pascabencana, terutama di daerah terdampak. Berdasarkan data, terdapat 31.123 hektar lahan pertanian di Sumut terdampak bencana, dengan rincian rusak ringan lebih dari 22 ribu hektar, rusak sedang sekitar 4.500 hektar, dan rusak berat 4.560 hektar.

“Kecamatan Tukka, Sibolga ada 94 hektar lahan rusak dan langsung kita intervensi. Kita sudah melakukan penanaman kembali dan bibitnya kita berikan. Sedangkan untuk kerusakan lahan sedang dan berat di daerah lain juga akan diintervensi. Kita saling berkolaboarsi dan gotong royong. Pemulihan lahan ini akan ditanggung oleh Kementan, provinsi dan kabupaten/kota. Mudah-mudahan kondisi ini tidak terdampak langsung dari panen kita,” harap Timur.

Sebelumnya Kepala Bappelitbang Sumut, Dikky Anugrah, memaparkan melalui program Jaskop sepanjang tahun 2025, Pemprov Sumut telah membangun 10 unit Solar Dryer Dome (SDD) dan 10 unit gudang penyimpanan di dua kabupaten sentra produksi cabai terbesar, yakni Batubara dan Karo.

“Ini merupakan langkah bijak yang dilakukan untuk meningkatkan efisiensi pascapanen, menurunkan kehilangan hasil, serta menjaga stabilitas pasokan cabai sebagai komoditas strategis penyumbang inflasi,” ujar Dikky.

Kapasitas SDD mampu menampung hingga 2 ton cabai merah yang dikelola oleh kelompok tani penerima manfaat, mengurangi risiko kehilangan pascapanen hingga 20 %, serta meningkatkan pendapatan petani sampai 22 %.

Untuk meredam gejolak inflasi pada 2025, Pemprov Sumut melalui BUMD juga melakukan pembelian dan penyaluran sebanyak 50 ton cabai merah dari Jawa Timur dan Jawa Tengah. Langkah ini ditempuh untuk mengendalikan laju inflasi akibat fluktuasi harga cabai merah yang sempat menyentuh kisaran di atas Rp100 ribu per kilogram di sejumlah pasar tradisional di Sumut.

“Langkah pembelian dan penyaluran kembali cabai merah ini terbukti efektif menstabilkan harga, di samping berbagai langkah cepat dan reaktif yang paralel dilakukan seperti operasi pasar murah dan pasar murah bergerak. Sehingga pada November 2025 angka inflasi Sumut turun menjadi 3,96%,” ujar Dikky. (sat)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *